KELINCI

SLEEPY LINDA

Kamis, 17 Mei 2018

laporan PTK (MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PADA MATERI HUKUM NEWTON )



Setelah melakukan penelitian PTK, biasanya kita dituntut untuk membuat laporan penelitian. Laporan tersebut isinya hampir sama dengan proposal saat pengajuan judul penelitian. Bedanya, pada proposal bagiannya hanya sampai pada metodologi penelitian. Sedangkan pada laporan terdapat Bab tambahan (BAB IV dan BAB V) yang berisi dengan hasil penelitian dan pembahasan beserta kesimpulan yang ditemukan dalam penelitian.

Berikut ini adalah contoh laporan PTK yang saya buat bersama tim saya untuk tugas matakuliah PTK di Universitas jambi. (untuk bacaan lebih lengkap dapat kalian download/akses disini
 
MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PADA MATERI HUKUM NEWTON
DI SMA N 1 MUARO JAMBI

Laporan Prasurvei
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

Dosen Pengampu:
Drs. M. Hidayat, M. Pd
Syarkowi, M.pd


Oleh:
LINDA ZAENATI NURFARIDA      (RSA1C315003)
IRDIANTI                                           (RSA1C315004)
SITI HADIJAH                                    (RSA1C315006)
DESI HELPI ZOHRIA                         (RSA1C315018)
HANAIYAH PARASDILA               (RSA1C315020)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018




DAFTAR ISI






Kemajuan suatu bangsa tergantung pada pendidikan generasi muda. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Maka dari itu, pendidikan harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pola pikir peserta didik. Dalam hal  meningkatkan pola pikir ini, perlu didukung dengan proses pengajaran yang tepat pula agar kemampuan siswa dapat berkembang dengan baik. Dalam keseluruhan upaya pendidikan, Proses Belajar Mengajar merupakan aktivitas yang paling penting, karena melalui proses itulah tujuan pendidikan akan dicapai. dalam proses belajar mengajar terdapat dua posisi subjek, yaitu guru sebagai pihak yang mengajar dan siswa sebagai pihak yang belajar. Hal ini mengimplikasikan bahwa PBM merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa yang didasari oleh hubungan yang bersifat mendidik dalam rangka pencapaian tujuan (Surakhmad, 1994) .Guru yang profesional akan selalu berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
Banyak mata pelajaran yang bisa diajarkan oleh guru, dari sekian pelajaran tersebut yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan fisika merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahuan alam serta mata pelajaran wajib di sekolah. Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan menggunakan bahasa matematika. Luasnya cakupan bahasan dalam fisika dengan berbagai konsep, fakta, dan prinsip cenderung membuat siswa beranggapan bahwa fisika sebagai mata pelajaran yang sangat sulit. Oleh karena itu banyak siswa yang menghindari bahkan tidak menyukai pelajaran tersebut. Sikap siswa yang tidak menyukai pembelajaran fisika tersebut, akan mengakibatkan rendahnya motivasi pada diri siswa. 
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di kelas X MIA 5 SMA Negeri 1 Muaro Jambi, terlihat bahwa sebagian siswa tidak memperhatikan guru saat proses KBM berlangsung. Dengan bukti tidak merespon apersepsi guru, jarang ada siswa yang bertanya, kurang berani mengemukakan pendapat, kurang mau menyiapkan diri dalam belajar, ribut saat proses belajar mengajar. Sikap Negatif tersebut mengindikasikan bahwa siswa kurang termotivasi untuk ikut dalam proses pemebalajaran. Sikap merupakan perasaan seperti suka atau tidak suka yang terkait dengan kecenderungan dalam merespon sesuatu. Sedangkan motivasi adalah usaha yang di dasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Dorongan motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu dibangkitkan dalam upaya pembelajaran di sekolah. Dengan adanya motivasi, akan memberikan dampak positif terhadap sikap siswa. Misalnya siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar dan pembelajaran.

Bagaimana motivasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika pada materi hukum newton di SMA N 1 Muaro Jambi?

Batasan masalah diperlukan agar penelitian lebih efektif, efisien dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Penelitian ini dilakukan hanya untuk meneliti motivasi siswa terhadap mata pelajaran fisika yang ada di dalam ruangan kelas.
2.    Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil subjek yang akan di teliti 1 kelas yaitu dikelas X MIA 5 SMAN 1 Muaro Jambi. Oleh karena itu sesuai dengan penelitian kualitatif, maka kesimpulan hanya berlaku untuk subjek yang diteliti.

Berdasarkan pada rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran fisika pada materi hukum newton di SMA N 1 Muaro Jambi.

Manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1.             Bagi siswa
Siswa dapat meningkatkan kemampuan motivasi siswa dalam proses pembelajaran
2.             Bagi Peneliti
a.    Peneliti dapat mengetahui kemampuan awal dan peningkatan kemampuan siswa dalam pembelajaran
b.    Peneliti dapat mengetahui kelemahan dalam proses pembelajaran
3.             Bagi Guru
Guru dapat menjadikan penelitian ini sebagai contoh atau panduan dalam proses pembelajaran



Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya disebabkan oleh adanya rangsangan/dorongan oleh unsur lain yang menjadi tujuannya. Dimyati dan Mudjiono (2002) mengatakan bahwa siswa belajar karena didorong kekuatan mental, kekuatan mental itu berupa keinginan dan perhatian, kemauan, cita-cita di dalam diri seorang terkadang adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu dalam belajar. Sedangkan menurut Sabri dalam Suparman (2010) motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan. Senada dengan hal ini, Djamarah (2006) juga mengatakan bahwa motivasi adalah suatu pendorong yang rnengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar sangat berperan mendorong siswa mencapai keberhasilan belajarnya, keberhasilan mencapai tujuan berdampak pada kepuasan. Keberhasilan belajar yang diraihnya tentu akan menghasilkan kepuasan pada diri mereka sendiri. Motivasi ini merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang dan dapat membuat seseorang berkeinginan keras untuk mencapai tujuannya.

Motivasi belajar bertalian erat dengan tujuan belajar. “Menurut Sardiman (2011), terkait dengan hal tersebut menguraikan fungsi motivasi antara lain:
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Dengan kata lain, motivasi ini sendiri berfungsi untuk membuat perubahan peserta didik dengan dorongan yang dilakukan pendidik melalui kegiatan pembelajaran. Dimana kegiatan ini dilakukan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

“Dimyati dan Mudjiono (2013) menyatakan bahwa terdapat dua macam motivasi belajar, yaitu:”
a. Motivasi intrinsik adalah keinginan untuk bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong dari dalam diri (internal) individu. Tingkah laku individu itu terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor dari lingkungan atau dorongan dari dalam individu dimana dorongan tersebut menggerakkan individu atau subyek untuk memenuhi kebutuhan, tanpa perlu dorongan dari luar.
b. Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.

“Eggen dan Kauchak (2012) menyatakan bahwa membantu siswa berhasil, menciptakan tantangan, membuat contoh jadi personal, melibatkan siswa, dan melakukan assesment menyeluruh dan sering terhadap siswa serta memberikan umpan balik mendetail akan berkontribusi pada motivasi siswa untuk belajar”.
“Suhana (2014), mengemukakan beberapa cara untuk membangkitkan motivasi belajar yaitu:

a.    Siswa memperoleh pemahaman (comprehension) yang jelas mengenai proses pembelajaran.
b.    Siswa memperoleh kesadaran diri (self consciousness) terhadap pembelajaran.
c.    Menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
d.   Memberi sentuhan lembut (soft touch).
e.    Memberikan hadiah (reward).
f.     Memberikan pujian dan penghormatan.
g.    Peserta didik mengetahui prestasi belajarnya.
h.    Adanya iklim belajar yang kompetitif secara sehat.
i.      Belajar menggunakan multimedia.
j.      Belajar menggunakan multimetode.
k.    Guru yang kompeten dan humoris.
l.      Suasana lingkungan sekolah yang sehat.

Gaya merupakan suatu besaran yang menyebabkan benda bergerak. Ketika seseorang mendorong mobil yang mogok, orang tersebut memberikan gaya pada mobil itu. Pada olah raga bulu tangkis, sebuah gaya diberikan atlet pada bola sehingga menyebabkan bola berubah arah gerak. Ketika sebuah mesin mengangkat lift, atau martil memukul paku, atau angin meniup daun-daun pada sebuah pohon, berarti sebuah gaya sedang diberikan. Di sisi lain, gaya tidak selalu menyebabkan gerak. Sebagai contoh, jika kalian mendorong tembok dengan sekuat tenaga, tetapi tembok tetap tidak bergerak.
Gambar 1.1 Neraca pegas yang digunakan untuk mengukur gaya.
Sebuah gaya memiliki nilai dan arah, sehingga merupakan vektor yang mengikuti aturan-aturan penjumlahan vektor yang telah dibahas Untuk mengukur besar atau kekuatan gaya, dapat dilakukan dengan menggunakan neraca pegas,

Bagaimanakah hubungan antara gaya dan gerak? Aristoteles (384-322 SM) percaya bahwa diperlukan sebuah gaya untuk menjaga agar sebuah benda tetap bergerak sepanjang bidang horizontal. Ia mengemukakan alasan bahwa untuk membuat sebuah buku bergerak melintasi meja, kita harus memberikan gaya pada buku itu secara kontinu. Menurut Aristoteles, keadaan alami sebuah benda adalah diam, dan dianggap perlu adanya gaya untuk menjaga agar benda tetap bergerak. Lebih jauh lagi, Aristoteles mengemukakan, makin besar gaya pada benda, makin besar pula lajunya.
Kira-kira 2000 tahun kemudian, Galileo Galilei (1564 -1642) menemukan kesimpulan yang sangat berbeda dengan pendapat Aristoteles. Galileo mempertahankan bahwa sama alaminya bagi sebuah benda untuk bergerak horizontal dengan kecepatan tetap, seperti saat benda tersebut berada dalam keadaan diam.
Bayangkan pengamatan yang melibatkan sebuah gerak horizontal berikut ini untuk memahami gagasan Galileo. Untuk mendorong sebuah benda yang mempunyai permukaan kasar di atas meja dengan laju konstan dibutuhkan gaya dengan besar tertentu. Untuk mendorong benda lain yang sama beratnya tetapi mempunyai permukaan yang licin di atas meja dengan laju yang sama, akan memerlukan gaya lebih kecil. Jika selapis minyak atau pelumas lainnya dituangkan antara permukaan benda dan meja, maka hampir tidak diperlukan gaya sama sekali untuk menggerakkan benda itu. Pada urutan kasus tersebut, gaya yang diperlukan makin kecil. Sebagai langkah berikutnya, kita bisa membayangkan sebuah situasi di mana benda tersebut tidak bersentuhan dengan meja sama sekali, atau ada pelumas yang sempurna antara benda itu dan meja, dan mengemukakan teori bahwa sekali bergerak, benda tersebut akan melintasi meja dengan laju yang konstan tanpa ada gaya yang diberikan. Sebuah bantalan peluru baja yang bergulir pada permukaan horizontal yang keras mendekati situasi ini. Demikian juga kepingan pada meja udara, tampak seperti pada Gambar 4.3, di mana lapisan udara memperkecil gesekan sehingga hampir nol.
Galileo membuat kesimpulan hebatnya, bahwa jika tidak ada gaya yang diberikan kepada benda yang bergerak, benda itu akan terus bergerak dengan laju konstan pada lintasan yang lurus. Sebuah benda melambat hanya jika ada gaya yang diberikan kepadanya. Dengan demikian, Galileo menganggap gesekan sebagai gaya yang sama dengan dorongan atau tarikan biasa.
 
Gambar 1.2 Gaya dorong dari tangan diimbangi
gaya gesek dengan permukaan meja
Sebagai contoh, mendorong sebuah buku melintasi meja dengan laju tetap dibutuhkan gaya dari tangan kalian, hanya untuk mengimbangi gaya gesek. Perhatikan Gambar 4.4. Jika buku tersebut bergerak dengan laju konstan, gaya dorong kalian sama besarnya dengan gaya gesek, tetapi kedua gaya ini memiliki arah yang berbeda, sehingga gaya total pada benda (jumlah vektor dari kedua gaya) adalah nol. Hal ini sejalan dengan sudut pandang Galileo, karena benda bergerak dengan laju konstan ketika tidak ada gaya total yang diberikan padanya.
Berdasarkan penemuan ini, Isaac Newton (1642-1727), membangun teori geraknya yang terkenal. Analisis
Newton tentang gerak dirangkum dalam “tiga hukum gerak”-nya yang terkenal. Dalam karya besarnya, Principia (diterbitkan tahun 1687), Newton menyatakan terima kasihnya kepada Galileo. Pada kenyataannya, hukum pertama Newton tentang gerak sangat dekat dengan kesimpulan Galileo. Hukum I Newton menyatakan bahwa: Setiap benda tetap berada dalam keadaan diam atau bergerakdengan laju tetap sepanjang garis lurus, kecuali jika diberi gaya total yang tidak nol.

Kecenderungan sebuah benda untuk mempertahankan keadaan diam atau gerak tetapnya pada garis lurus disebut inersia (kelembaman). Sehingga, Hukum I Newton sering disebut Hukum Inersia.
Hukum I Newton tidak selalu berlaku pada setiap kerangka acuan. Sebagai contoh, jika kerangka acuan kalian tetap di dalam mobil yang dipercepat, sebuah benda seperti cangkir yang diletakkan di atas dashboard mungkin bergerak ke arah kalian (cangkir tersebut tetap diam selama kecepatan mobil konstan). Cangkir dipercepat ke arah kalian tetapi baik kalian maupun orang atau benda lain memberikan gaya kepada cangkir tersebut dengan arah berlawanan. Pada kerangka acuan yang dipercepat seperti ini, Hukum I Newton tidak berlaku. Kerangka acuan di mana Hukum I Newton berlaku disebut kerangka acuan inersia.
Sebagian besar masalah, kita biasanya dapat menganggap bahwa kerangka acuan yang terletak tetap di Bumi adalah kerangka inersia (walaupun hal ini tidak tepat benar, karena disebabkan oleh rotasi Bumi, tetapi cukup mendekati). Kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan konstan (misalnya sebuah mobil) relative terhadap kerangka inersia juga merupakan kerangka acuan inersia. Kerangka acuan di mana hukum inersia tidak berlaku, seperti kerangka acuan yang dipercepat di atas, disebut kerangka acuan noninersia. Bagaimana kita bisa yakin bahwa sebuah kerangka acuan adalah inersia atau tidak? Dengan memeriksa apakah Hukum I Newton berlaku. Dengan demikian Hukum I Newton berperan sebagai definisi kerangka acuan inersia.

Hukum I Newton menyatakan bahwa jika tidak ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, maka benda tersebut akan tetap diam, atau jika sedang bergerak, akan bergerak lurus beraturan (kecepatan konstan). Selanjutnya apa yang terjadi jika sebuah gaya total diberikan pada benda tersebut?
Newton berpendapat bahwa kecepatan akan berubah. Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan.
Bagaimana hubungan antara percepatan dan gaya? Pengalaman sehari-hari dapat menjawab pertanyaan ini. Ketika kita mendorong kereta belanja, maka gaya total yang terjadi merupakan gaya yang kita berikan dikurangi gaya gesek antara kereta tersebut dengan lantai. Jika kita mendorong dengan gaya konstan selama selang waktu tertentu, kereta belanja mengalami percepatan dari keadaan diam sampai laju tertentu, misalnya 4 km/jam.
Jika kita mendorong dengan gaya dua kali lipat semula, maka kereta belanja mencapai 4 km/jam dalam waktu setengah kali sebelumnya. Ini menunjukkan percepatan kereta belanja dua kali lebih besar. Jadi, percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang diberikan. Selain bergantung pada gaya, percepatan benda juga bergantung pada massa. Jika kita mendorong kereta belanja yang penuh dengan belanjaan, kita akan menemukan bahwa kereta yang penuh memiliki percepatan yang lebih lambat. Dapat disimpulkan bahwa makin besar massa maka akan makin kecil percepatannya, meskipun gayanya sama. Jadi, percepatan sebuah benda berbanding terbalik dengan massanya.
Hubungan ini selanjutnya dikenal sebagai Hukum II Newton, yang bunyinya sebagai berikut: Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gayatotal yang bekerja padanya dan berbanding terbalik denganmassanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya totalyang bekerja padanya.
Hukum II Newton tersebut dirumuskan secara matematis dalam persamaan:
Satuan gaya menurut SI adalah newton (N). Dengan demikian, satu newton adalah gaya yang diperlukan untuk memberikan percepatan sebesar 1 m/s2 kepada massa 1 kg. Dari definisi tersebut, berarti 1 N = 1 kg.m/s2.
Dalam satuan cgs, satuan massa adalah gram (g). Satuan gaya adalah dyne, yang didefinisikan sebagai besar gaya yang diperlukan untuk memberi percepatan sebesar 1 cm/s2 kepada massa 1 g. Dengan demikian, 1 dyne = 1 g.cm/s2. Hal ini berarti 1 dyne = 10-5 N.

Hukum II Newton menjelaskan secara kuantitatif bagaimana gaya-gaya memengaruhi gerak. Tetapi kita mungkin bertanya, dari mana gaya-gaya itu datang? Berdasarkan pengamatan membuktikan bahwa gaya yang diberikan pada sebuah benda selalu diberikan oleh benda lain. Sebagai contoh, seekor kuda yang menarik kereta, tangan seseorang mendorong meja, martil memukul/mendorong paku, atau magnet menarik paku. Contoh tersebut menunjukkan bahwa gaya diberikan pada sebuah benda, dan gaya tersebut diberikan oleh benda lain, misalnya gaya yang diberikan pada meja diberikan oleh tangan.
 
Gambar 1.3 Ketika tangan mendorong ujung meja,
meja mendorong tangan kembali.

Newton menyadari bahwa hal ini tidak sepenuhnya seperti itu. Memang benar tangan memberikan gaya pada meja, tampak seperti pada Gambar 4.9. Tetapi meja tersebut jelas memberikan gaya kembali kepada tangan. Dengan demikian, Newton berpendapat bahwa kedua benda tersebut harus dipandang sama. Tangan memberikan gaya pada meja, dan meja memberikan gaya balik kepada tangan.
Hal ini merupakan inti dari Hukum III Newton, yaitu: Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua,benda kedua tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapiberlawanan arah terhadap benda pertama.
Hukum III Newton ini kadang dinyatakan sebagai hukum aksi-reaksi, “untuk setiap aksi ada reaksi yang sama dan berlawanan arah”. Untuk menghindari kesalahpahaman, sangat penting untuk mengingat bahwa gaya “aksi” dan gaya “reaksi” bekerja pada benda yang berbeda.
Kebenaran Hukum III Newton dapat ditunjukkan dengan contoh berikut ini. Perhatikan tangan kalian ketika mendorong ujung meja. Bentuk tangan kalian menjadi berubah, bukti nyata bahwa sebuah gaya bekerja padanya. Kalian bisa melihat sisi meja menekan tangan kalian. Mungkin kalian bahkan bisa merasakan bahwa meja tersebut memberikan gaya pada tangan kalian; rasanya sakit! Makin kuat kalian mendorong meja itu, makin kuat pula meja tersebut mendorong balik. Perhatikan bahwa kalian hanya merasakan gaya yang diberikan pada kalian, bukan gaya yang kalian berikan pada benda-benda lain.
Ø  Berat - Gaya Gravitasi dan Gaya Normal
Galileo menyatakan bahwa benda-benda yang dijatuhkan di dekat permukaan bumi akan jatuh dengan percepatan yang sama yaitu g, jika hambatan udara dapat diabaikan. Gaya yang menyebabkan percepatan ini disebut gaya gravitasi. Dengan menerapkan Hukum II Newton untuk gaya gravitasi dan untuk percepatan a, digunakan percepatan ke bawah yang disebabkan oleh gravitasi yaitu g, maka gaya gravitasi pada sebuah benda FG, yang besarnya biasa disebut berat w, dapat dituliskan:
Fc=m.g…………….(4.2)
Arah gaya ini ke bawah menuju pusat bumi.
Dalam satuan Sistem Internasional (SI), percepatan gravitasi dinyatakan dalam m/s2. Percepatan gravitasi disuatu tempat pada permukaan bumi sebesar g = 9,80 m/s2. Satuan percepatan gravitasi dapat dinyatakan dalam N/kg, di mana g = 9,80 m/s2 = 9,80 N/kg. Hal ini berarti, sebuah benda yang massanya 1 kg di permukaan bumi memiliki berat sebesar:
w= 1 kg x 9,80 m/s2 = 9,80 N
Berat suatu benda di Bumi, Bulan, planet lain, atau di luar angkasa besarnya berbeda-beda. Sebagai contoh, percepatan gravitasi g di permukaan bulan kira-kira 1/6 percepatan gravitasi di permukaan bumi. Sehingga massa 1 kg di permukaan bumi yang beratnya 9,8 N, ketika berada di permukaan bulan beratnya menjadi 1,7 N.
Gaya gravitasi bekerja pada sebuah benda ketika benda tersebut jatuh. Ketika benda berada dalam keadaan diam di Bumi, gaya gravitasi pada benda tersebut tidak hilang. Hal ini dapat diketahui, jika kita menimbang benda tersebut dengan menggunakan neraca pegas. Gaya yang besarnya sama, pada persamaan (4.2), tetap bekerja, tetapi mengapa benda tidak bergerak?
Dari Hukum II Newton, resultan gaya pada sebuah benda yang tetap diam adalah nol. Pasti ada gaya lain pada benda tersebut untuk mengimbangi gaya gravitasi. Untuk sebuah benda yang diam di atas meja, maka meja tersebut memberikan gaya ke atas (perhatikan Gambar 4.10). Meja sedikit tertekan di bawah benda, dan karena elastisitasnya, meja itu mendorong benda ke atas seperti diperlihatkan pada gambar. Gaya yang diberikan oleh meja ini sering disebut gaya sentuh, karena terjadi jika dua benda bersentuhan. Ketika gaya sentuh tegak lurus terhadap permukaan bidang sentuh, gaya itu biasa disebut gaya normal N (“normal” berarti tegak lurus).
 

Gambar 1.4 Gaya pada sebuah benda
dalam keadaan diam

Kedua gaya yang ditunjukkan pada Gambar 4.10, bekerja pada benda yang tetap dalam keadaan diam, sehingga jumlah v ektor ke d ua gaya ini pasti nol (Hukum II Newton). Dengan demikian, w dan N harus memiliki besar yang sama dan berlawanan arah. Tetapi gaya-gaya tersebut bukan gaya-gaya yang sama dan berlawanan arah yang dibicarakan pada Hukum III Newton. Gaya aksi dan reaksi Hukum III Newton bekerja pada benda yang berbeda, sementara kedua gaya yang ditunjukkan pada Gambar 4.10, bekerja pada benda yang sama. Gaya ke atas N pada benda diberikan oleh meja. Reaksi terhadap gaya ini adalah gaya yang diberikan oleh benda kepada meja.


Ø  Aplikasi Hukum-Hukum Newton tentang Gerak
Hukum II Newton menyatakan bahwa percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut. Resultan gaya adalah jumlah vektor dari semua gaya yang bekerja pada benda itu. Melalui kegiatan eksperimen yang ekstensif telah membuktikan bahwa gaya-gaya bergabung sebagai vektor sesuai aturan yang berlaku pada penjumlahan vektor. Sebagai contoh, dua gaya yang besarnya sama masing-masing 10 N, digambarkan bekerja pada sebuah benda dengan saling membentuk sudut siku-siku. Secara intuitif, kita bisa melihat bahwa benda itu akan bergerak dengan sudut 45o. Dengan demikian resultan gaya bekerja dengan arah sudut 45o. Hal ini diberikan oleh aturan-aturan penjumlahan vektor. Teorema Pythagoras menunjukkan bahwa besar resultan gaya adalah:
Ketika memecahkan masalah yang melibatkan Hukum Newton dan gaya, penggambaran diagram untuk menunjukkan semua gaya yang bekerja pada setiap benda sangatlah penting. Diagram tersebut dinamakan diagram gaya, di mana kita gambar tanda panah untuk mewakili setiap gaya yang bekerja pada benda, dengan meyakinkan bahwa semua gaya yang bekerja pada benda tersebut telah dimasukkan,
Jika gerak translasi (lurus) yang diperhitungkan, kita dapat menggambarkan semua gaya pada suatu benda bekerja pada pusat benda itu, dengan demikian menganggap benda tersebut sebagai benda titik.

Gambar 1.5 Balok terletak pada bidang mendatar
yang licin, dikerjakan gaya

Gambar 4.12 menunjukkan pada sebuah balok yang terletak pada bidang mendatar yang licin, bekerja gaya F mendatar hingga balok bergerak sepanjang bidang tersebut. Komponen gaya-gaya pada sumbu y adalah:
F y = N w
Dalam hal ini, balok tidak bergerak pada arah sumbu y, berarti ay = 0, sehingga:
F y  =0
N–w =0
N = w = m.g ..........................................................(4.3)
dengan:
N= gaya normal (N)
w= berat benda (N)
m= massa benda (kg)
g= percepatan gravitasi (m/s2)
Sementara itu, komponen gaya pada sumbu x adalah:
Fx =F
Dalam hal ini, balok bergerak pada arah sumbu x, berarti besarnya percepatan benda dapat dihitung sebagai berikut:
Fx = m.a
F    = m.a
Dengan:
a = percepatan benda (m/s2)
F = gaya yang bekerja (N)
m= massa benda (kg)
g= percepatan gravitasi (m/s2)

Gambar 1.6 Balok terletak pada bidang miring yang licin, dikerjakan gaya.
Gambar 4.13 menunjukkan sebuah balok yang bermassa m bergerak menuruni bidang miring yang licin. Dalam hal ini kita anggap untuk sumbu x ialah bidang miring, sedangkan sumbu y adalah tegak lurus pada bidang miring.
Komponen gaya berat w pada sumbu y adalah:
wy = w.cosθ = m.g.cosθ
Resultan gaya-gaya pada komponen sumbu y adalah:
Fy= = N wy = N m.g.cosθ
Dalam hal ini, balok tidak bergerak pada arah sumbu y, berarti ay = 0, sehingga:
Fy = 0
N m.g.cosθ=0
N = m.g.cos       (4.5)
dengan:
N = gaya normal pada benda (N)
m = massa benda (kg)
g= percepatan gravitasi (m/s2)
θ= sudut kemiringan bidang
Sementara itu, komponen gaya berat (w) pada sumbu x adalah:
w x = w.sin θ = m.g.sin θ
Komponen gaya-gaya pada sumbu x adalah:
Fx = m.g.sin θ
Dalam hal ini, balok bergerak pada arah sumbu x, berarti besarnya percepatan benda dapat dihitung sebagai berikut:
Fx = m.a
m.g.sin θ = m.a
a= g.sin θ           (4.6)
dengan:
a= percepatan benda (m/s2)
g= percepatan gravitasi (m/s2)
θ = sudut kemiringan bidang



Gambar  1.7 Balok terletak pada bidang mendatar yang licin, dikerjakan gaya.

Gambar 1.7 menunjukkan dua buah balok A dan B dihubungkan dengan seutas tali terletak pada bidang mendatar yang licin. Pada salah satu balok (misalnya balok B) dikerjakan gaya F mendatar hingga keduanya bergerak sepanjang bidang tersebut dan tali dalam keadaan tegang yang dinyatakan dengan T.
Apabila massa balok A dan B masing-masing adalah mA dan mB, serta keduanya hanya bergerak pada arah komponen sumbu x saja dan percepatan keduanya sama yaitu a, maka resultan gaya yang bekerja pada balok A (komponen sumbu x) adalah:
∑ Fx( A )= = T = mA.a (4.7)
Sementara itu, resultan gaya yang bekerja pada balok B (komponen sumbu x) adalah:
∑ Fx(B ) = F T = mB.a          (4.8)
Dengan menjumlahkan persamaan (4.7) dan persamaan (4.8) didapatkan:
F T + T= mA.a + mB.a
F= (mA + mB)a
         (4.9)
Dengan:
a= percepatan sistem (m/s2)
F=gaya yang bekerja (N)
m A = massa benda A (kg)
mB = massa benda B (kg)
                                          

Gambar 1.8 Seseorang di dalam lift
Gambar 1.8 menunjukkan seseorang yang berada di dalam lift. Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan
peristiwa, antara lain:
Lift dalam keadaan diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.
Komponen gaya pada sumbu y adalah:
F y = N w
Dalam hal ini, lift dalam keadaan diam atau bergerak dengan kecepatan tetap (GLB) pada komponen sumbu y, berarti ay = 0, sehingga:
F y =0
N w=0
N = w = m.g       (4.10)
Dengan:
N = gaya normal (N)
w = berat orang/benda (N)
m= massa orang/benda (kg)
g= percepatan gravitasi (m/s2)
·      Lift dipercepat ke atas
Komponen gaya pada sumbu y adalah:
F y = N w
Dalam hal ini, lift bergerak ke atas mengalami percepatan a, sehingga:
F y= N w
N – w   = m.a
N= w + (m.a)
Dengan:
N = gaya normal (N)
w = berat orang/benda (N)
m = massa orang/benda (kg)
a= percepatan lift (m/s2)
·      Lift dipercepat ke bawah
Komponen gaya pada sumbu y adalah:
F y= w–N
Dalam hal ini, lift bergerak ke bawah mengalami percepatan a, sehingga:
F y= m.a
w–N= m.a
N= w – (m.a)                 (4.12)
Dengan:
N = gaya normal (N)
w = berat orang/benda (N)
m = massa orang/benda (kg)
a = percepatan lift (m/s2)

Catatan: Apabila lift mengalami perlambatan, maka percepatan a = -a

Gambar 1.9 Dua buah benda dihubungkan dengan
tali melalui sebuah katrol

Gambar 1.9 menunjukkan dua buah balok A dan B yangdihubungkan dengan seutas tali melalui sebuah katrol yang licin dan massanya diabaikan. Apabila massa benda A lebih besar dari massa benda B (mA > mB), maka benda A akan bergerak turun dan B akan bergerak naik. Karena massa katrol dan gesekan pada katrol diabaikan, maka selama sistem bergerak besarnya tegangan pada kedua ujung tali adalah sama yaitu T. Selain itu, percepatan yang dialami oleh masing-masing benda adalah sama yaitu sebesar a.
Dalam menentukan persamaan gerak berdasarkan Hukum II Newton, kita pilih gaya-gaya yang searah dengan gerak benda diberi tanda positif (+), sedangkan gaya-gaya yang berlawanan arah dengan gerak benda diberi tanda negatif (-).
Resultan gaya yang bekerja pada balok A adalah:
FA= mA .a
wA – T = mA.a                         (4.13)
Resultan gaya yang bekerja pada balok B adalah:
FB= mB.a
T – wB = mB.a                         (4.14)
Dengan menjumlahkan persamaan (4.13) dan persamaan (4.14) didapatkan:
wA – wB   = mA.a + mB.a
(mA – mB)g = (mA + mB)a
                             (4.15)
Secara umum, untuk menentukan percepatan gerak benda (sistem Gambar 4.17) berdasarkan persamaan Hukum II Newton dapat dinyatakan sebagai berikut:
F= ∑m.a
wA – wB   = mA.a + mB.a
(mA – mB)g = (mA + mB)a
a  =
dengan:
a = percepatan sistem (m/s2)
m A = massa benda A (kg)
mB = massa benda B (kg)
g  = percepatan gravitasi setempat (m/s2)
Besarnya tegangan tali (T ) dapat ditentukan dengan mensubstitusikan persamaan (4.13) atau (4.14), sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut:
T= wA – mA.a = mA.g mA.a = mA(g a)               (4.17)
T= mB.a + wB = mB.a + mB.g = mB(a+g)                 (4.18)


Gambar 1.10 Sebuah benda di atas bidang mendatar
Dihubungkandengan tali melalui sebuah katrol
dengan benda lain yang tergantung

Selanjutnya, salah satu benda terletak pada bidang mendatar yang licin dihubungkan dengan benda lain dengan menggunakan seutas tali melalui sebuah katrol, di mana benda yang lain dalam keadaan tergantung tampak seperti pada Gambar 1.10 di samping.
Dalam hal ini kedua benda merupakan satu sistem yang mengalami percepatan sama, maka berdasarkan persamaan Hukum II Newton dapat dinyatakan sebagai berikut:
F== ∑m.a
wA – T + T T + T = (mA + mB)a
w A  = (mA + mB)a
mA.g = (mA + mB)a
a  = g                 (4.19)
Besarnya tegangan tali (T ) dapat ditentukan dengan meninjau resultan gaya yang bekerja pada masing-masing
benda, dan didapatkan persamaan:
T= mA.a                        (4.20)
T= wB – mB.a = mB.g mB.a = mB(g a)                 (4.21)


Ø  Dinamika Gerak Melingkar Beraturan
Menurut Hukum II Newton, sebuah benda yang mengalami percepatan harus memiliki resultan gaya yang bekerja padanya. Benda yang bergerak membentuk lingkaran, seperti sebuah bola di ujung seutas tali, harus mempunyai gaya yang diberikan padanya untuk mempertahankan geraknya dalam lingkaran itu. Dengan demikian, diperlukan resultan gaya untuk memberinya percepatan sentripetal. Besar gaya yang dibutuhkan dapat dihitung dengan menggunakan Hukum II Newton.
Resultan gaya pada komponen radialnya adalah ∑ FR = m.aR , di mana aR adalah percepatan sentripetal, sedangkan ∑FR adalah resultan gaya dalam arah radial.
FR = m.aR=
Oleh karena aR diarahkan menuju pusat lingkaran pada setiap waktu, resultan gaya juga harus
diarahkan ke pusat lingkaran. Resultan gaya jelas diperlukan, karena jika tidak ada resultan gaya yang bekerja, benda tersebut tidak akan bergerak membentuk lingkaran melainkan bergerak pada garis lurus.

Gambar 1.11 Untuk mempertahankan gerak sebuah benda
pada lingkaran dibutuhkan sebuah gaya. Jika laju konstan, gaya diarahkan menuju pusat lingkaran.

Pada gerak melingkar beraturan, gaya ke samping ini harus bekerja menuju pusat lingkaran (Gambar 1.11). Arah resultan gaya dengan demikian terus berubah sehingga selalu diarahkan ke pusat lingkaran. Gaya ini sering disebut gaya sentripetal (“menuju ke pusat”). Istilah ini hanya mendeskripsikan arah resultan gaya, bahwa resultan gaya diarahkan menuju pusat lingkaran. Gaya harus diberikan oleh benda lain. Sebagai contoh, ketika seseorang memutar bola di ujung sebuah tali membentuk lingkaran, orang tersebut menarik tali dan tali memberikan gaya pada bola.


Gambar 1.12 Gerak sebuah benda pada lingkaran horizontal
Gambar 4.20 menunjukkan dua gaya yang bekerja pada bola, yaitu gaya gravitasi m.g dan gaya tegangan FT yang diberikan oleh tali (yang terjadi karena orang itu memberikan gaya yang sama pada tali). Jika berat bola itu cukup kecil, dapat kita abaikan. Dengan demikian, F T akan bekerja secara horizontal ( θ ≈ 0) dan menyediakan gaya yang diperlukan untuk memberi percepatan sentripetal pada bola. Berdasarkan Hukum II Newton untuk arah radial pada bidang horizontal yang kita sebut misalnya komponen sumbu x, berlaku:
Fx = m.ax =
 

Gambar 1.13 Gerak sebuah benda membentuk ayunan konikal

Gambar 4.21 menunjukkan permainan bola tambatan yang dimainkan dengan cara mengikatkan sebuah bola ke tiang dengan tali. Ketika bola dipukul, ia akan berputar mengelilingi tiang. Kemudian yang menjadi pertanyaan, ke arah mana percepatan bola, dan apa yang menyebabkan percepatan itu?
Percepatan menunjuk arah horizontal yang menuju pusat lintasan melingkar bola (bukan ke puncak tiang). Gaya yang menyebabkan percepatan mungkin tidak jelas pada saat pertama kali, karena tampaknya tidak ada gaya yang langsung mempunyai arah horizontal. Tetapi resultan gayalah (dalam hal ini jumlah m.g dan FT) yang pasti menunjuk arah percepatan. Komponen vertikal tegangan tali mengimbangi berat bola, m.g. Komponen horizontal tegangan tali, F Tx adalah gaya yang menghasilkan percepatan sentripetal menuju pusat.

Gambar 1.14 Gerak sebuah benda berputar(lingkaran vertikal)

Gambar 4.22 menunjukkan sebuah benda diikat dengan seutas tali yang diputar membentuk lingkaran vertikal. Bagaimanakah menentukan laju minimum bola pada puncak lintasannya sehingga bola itu bisa terus bergerak dalam lingkaran?
Pada saat bola berada di puncak (titik A), dua gaya bekerja pada bola, yaitu gaya berat m.g, dan gaya tegangan, FTA yang diberikan tali pada titik A. Keduanya bekerja dengan arah ke bawah, dan jumlah vektornya memberikan percepatan sentripetal as kepada bola. Berdasarkan Hukum II Newton, untuk arah vertikal dengan memilih arah ke bawah (menuju pusat) positif berlaku:
Fs = m.as
FTA + m.g =    (4.24)
Persamaan (4.24) menunjukkan bahwa gaya gravitasi dan tegangan tali bersama-sama memberikan percepatan sentripetal. Gaya tegangan FTA pada A akan menjadi bertambah besar jika vA (laju bola di puncak lingkaran) dibuat lebih besar, sebagaimana telah diperkirakan. Tetapi yang ditanyakan adalah laju minimum untuk menjaga agar bola tetap bergerak dalam lingkaran. Tali akan tetap tegang selama ada tegangan padanya, tetapi jika tegangan hilang (karena vA terlalu kecil) tali akan melengkung, dan bola akan keluar dari lintasannya. Dengan demikian, laju minimum akan terjadi jika F TA = 0, sehingga kita dapatkan:
m.g=
vA =
Di mana vA adalah laju minimum di puncak lingkaran jika bola harus meneruskan geraknya dalam lintasan lingkaran.Sementara itu, di bagian bawah lingkaran, tali memberikan gaya tegangan FTB ke atas, sementara gaya gravitasibekerja ke bawah. Sehingga, Hukum II Newton, untuk arah ke atas (menuju pusat lingkaran) sebagai arah positif, didapatkan:
Laju vB diketahui dua kali lipat laju vA. Dalam hal ini, laju berubah karena gravitasi bekerja pada bola di semua titik sepanjang lintasan:
Kita tidak bisa dengan mudah menentukan FTB sama dengan mvB2/R, karena persamaan terakhir tersebut (untukmenentukan FTB) menunjukkan resultan gaya pada bola dalam arah radial, sehingga dalam hal ini juga melibatkan gravitasi. Jelas bahwa tegangan tali tidak hanya memberikan percepatan sentripetal, tetapi harus lebih besar dari m.as untuk mengimbangi gaya gravitasi ke bawah.
































 


1.    Hasil penelitian dari Rike Kurnia Sari (2017) yang berjudul Analisis Faktor Rendahnya Motivasi Belajar Siswa Dalam Proses Pembelajaran IPA Di SD Negeri 80/I Rengas Condong Kecamatan Muara  Bulian. Dalam penelitian ini menunjukkan rendahnya motivasi  disebabkan oleh rendahnya disipilin belajar, sikap belajar siswa yang tidak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas, kurangnya tingkat keaktifan siswa yang ditandai dengan kurang mendengarkan penjelasan guru, kurang perhatian terhadap tugas individu dan kelompok, rasa ingin tahu rendah, serta tidak memiliki keberanian dalam bertanya dan menjawab. Tingkat kepuasan yang masih rendah ditandai dengan perolehan nilai belajar IPA siswa kelas IV hampir mencapai 50% (setengah jumlah siswa).  Sementara, faktor hubungan yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, sesuai penelitian ini ditemukan hubungan pada siswa normal dan baik.

2.    Hasil penelitian dari Asiah yang berjudul Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Fisika Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Learnig Cycle (LC) Tipe 5E di Kelas X MIA 1 SMA Negeri 11 Kota Jambi. Penelitian ini menunjukkan Kendala yang dialami dalam proses pembelajaran, yaitu guru tidak menyampaikan tujuan berdasarkan aplikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari siswa, guru kurang membimbing siswa pada saat menyusun hipotesis dan melakukan prediksi, guru kurang menyediakan bahan-bahan pembelajaran yang diperlukan, guru kurang memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan baru siswa




3.1  Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas X MIA5 pada semester genap di SMAN 1 Muaro Jambi tahun ajaran 2017/2018.

Penelitian ini menggunakan metode mix methode yaitu gabungan penelitian kuantitatif dan kualitatif  bertujuan untuk mengetahui deskripsi motivasi  belajar siswa kelas X MIA 5 di SMAN 1 Muaro Jambi. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desain penelitian survey.

Subjek penelitian tindakan kelas xmia 5 berjumlah 36 siswa/siswi dengan komposisi ... laki-laki dan... perempuan dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan menggunakan 4 tahapan yaitu (1) planning, (2)  acting,  (3) observing, dan (4) reflecting.
1)        Planning
Langkah awal pada perencanaan penelitian ini adalah peneliti mengidentifikasi masalah yang ada dikelas XMIA 5 dengan menggunakan lembar observasi motivasi belajar. Membuat rancangan pelaksaan pembelajaran menggunakan metode diskusi dengan model pembelajaran konstektual.
2)        Acting
Pelaksanaan penelitian tindakan pada siklus I sesuai dengan perencanaan yang ada dalam rencana pembelajaran yaitu :
a.       Adanya kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir
b.      Melakukan evaluasi
c.       Menganalisis hasil evaluasi
Apabila pada siklus I tidak tercapai hasil yang diharapkan, maka diperlukan langkah lanjuttan yaitu siklus II,  untuk langkah lanjuttan tetap mengacu kepada siklus I.
3)        Observing
Pengamatan dilakukan selama tindakan berlangsung. Pengamatan mencakup aktivitas siswa dan aktivitas guru dengan lembar pengamatan. Guru dan peneliti mengamati dampak pelaksanaan apakah telah sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan kendala apa yang dihadapi siswa maupun guru pada saat proses belajar mengajar. Adapun peroleh data pada penelitian ini sebagai berikut :
a.    Teknik pengumpulan data
Data yang akan diambil selama kegiatan pembelajaran diperoleh dengan cara  melakukan observasi dengan menggunakan instrumen pengukuran motivasi belajar, dokumentasi, dan tes tertulis untuk mengukur kemampuan dan keterampilan siswa-siswi dalam menguasai materi fisika
b.    Validasi data
Strategi untuk meningkatkan validasi data perlu dilakukan pengecekan data yang diperoleh dengan strategi trianggulasi yaitu menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian (Connolle, 1994). Trianggulasi yang digunakan adalah data hasil pekerjaan siswa, observasi dan catatan lapangan.
4)        Reflecting
Data tes analisis dengan perhitungan data nilai observasi data mengenai hasil belajar siswa pada masing masing siklus. Jika hasilnya belum seperti yang diharapkan maka masalah yang ada belum terselesaikan, maka akan diadakan perbaikan dengan siklus berikutnya(revisi).

Data yang dikumpulkan ialah data kuantitatif dan kualitatif dengan sumber data sebagai berikut:
1.      Tes Tertulis
Tes tertulis diberikan setelah materi hukum Newton selesai proses pembelajaran di kelas X MIA 5 SMAN 1 Muaro Jambi. Soal tes yang diberikan berbentuk tes pilihan ganda.
2.      Observasi
Riduwan (2013) menjelaskan bahwa observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Pemantauan terhadap pembelajaran menggunakan lembar pengamatan (observasi) yang hasilnya digunakan untuk menentukan jenis tindakan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.
3.      Dokumentasi
Dokumen atau dokumentasi dalam penelitian mempunyai dua makna yang sering dipahami secara keliru oleh peneliti pemula. Pertama dokumen yang dimaksudkan sebagai alat bukti tentang sesuatu, termasuk catatan-catatan, foto, rekaman video atau apapun yang dihasilkan oleh seorang peneliti. Dokumen bentuk ini lebih cocok disebut sebagai dokumentasi kegiatan/ kenang-kenangan (Ibrahim.2015).

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan memberikan lembar pernyataan tertulis yaitu dengan memberikan angket ke sampel penelitian yang telah ditentukan yakni siswa kelas X MIA 5 Muaro Jambi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi motivasi  belajar siswa kelas X IPS-1 SMA N Kota Jambi. Sehingga instrumen yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah angket motivasi belajar fisika siswa. Pengisian angket dilakukan dengan memberi tanda checklist (√) pada kolom pilihan untuk menunjukan kecenderungan sikap siswa yang dapat mendeskripsikan motivasi belajar siswa selama melaksanakan pembelajaran fiiska.
Angket yang digunakan terdapat lima pilihan kemungkinan jawaban. Indikator minat dan motivasi belajar fiiska siswa disajikan dalam tabel berikut ini:

Kisi-Kisi Angket Motivasi Belajar Siswa
Dimensi
Indikator
Deskriptor
No butir
Jumlah
Motivasi siswa dalam belajar fisika melalui penerapan metode pembelajaran eksperimen
1.       Aktivitas belajar tinggi
a.       Bekerja mandiri
b.      Belajar di luar waktu sekolah
c.       Penyusunan jadwal belajar
d.      Mengulang pelajaran dirumah
1
2

3

4
1
1

1

1
2.      Tekun dalam mengerjakan tugas

a.       Mencari bahan atau sumber bacaan
b.      Memeriksa kelengkapan tugas
c.       Tidak mudah bosan
d.      Memperbaiki tugas
e.       Uletdalambekerja
5

6

7
8
9
1

1

1
1
1
3.      Ulet dalam menghadapi kesulitan.
a.   Mengajukan pertanyaan pada guru
b.  Bertanya pada teman
c.   Belajar bersama
d.  Diskusi
10

11-12
13
14
1
2
1
1
4.      Respon siswa dengan adanya informasi dari guru.
Informasi dari guru berupa:
a.       Memberi tujuan belajar
b.      Menjelaskan melalui contoh
c.       Menulis hal-hal yang dianggap penting
15
16

17
18-19
1
1

1
2
5.      Respon siswa dengan adanya umpan balik.
Umpan balik dari guru berupa:
a.       Memberi informasi hasil ulangan
b.      Memberi komentar terhadap tugas latihan/PR
c.       Memberi kesempatan bertanya


20

21

22

1
1
1
6.      Respon siswa dengan adanya penguatan.
Penguatan dari guru berupa:
a.       Memberikan pujian
b.      Memberikan saran pemecahan
c.       Membantu menemukan cara menarik kesimpulan

23
24

25

1
1

1


Sugiono (2013) mengatakan bahwa instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapat data (mengukur) itu valid. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.
Suatu tes hasil belajar dikatakan valid menurut validitas isi ini bila mana materi tes tersebut betul-betul dapat mewakili secara menyeluruh (representatif). Tujuan digunakan validitas isi yakni untuk menguji ketepatan isi dan keabsahan soal sebagai instrument penelitian sehingga data yang diperoleh dari hasil tes tersebut dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum, maka penulis membuat kisi-kisi soal dan tes yang sesuai dengan materi  hukum Newton yang telah diberikan berdasarkan kurikulum SMA.





Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam penelitian digunakan beberapa teknik analisis data sebagai berikut:
1.    Data Kuantitatif
Data kuantitatif untuk hasil belajar siswa diperoleh dari hasil pemberian tes pada tahap evaluasi dilakukan dengan perhitungan yang dikemukakan oleh Arikunto (2009), dengan menggunakan persamaan berikut:
S =
Keterangan :
S = Skor
R = Jumlah Jawaban yang benar
Wt = Bobot
W = Jumlah jawaban yang salah
n = Jumlah Option ( banyaknya pilihan jawaban )

2.    Data Kualitatif
   Data kualitatif diambil dari data hasil observasi tentang situasi belajar mengajar, yaitu untuk data hasil observasi aktivitas siswa dihitung yang dikemukakan oleh Arikunto (2009) dengan menggunakan persamaan:
                                       A =

Keterangan :
A = Aktifitas siswa
Na = Jumlah siswa yang aktif
N = Jumlah siswa keseluruhan
Dengan perhitungan penilaian sebagai berikut :
0 – 20 = Tidak Aktif
21 – 40 = Kurang Aktif
41 – 60 = Cukup Aktif
61 – 80 = Aktif
81 –100 =Sangat Aktif
Selanjutnya, untuk lembar observasi siswa ditentukan nilai rata-ratanya kemudian dicocokkan dengan kategori. Angka-angka itu digunakan sebagai tolak ukur yang menunjukkan kualitas aktivitas siswa selama proses belajar mengajar, untuk mengetahui perubahan situasi belajar yang diharapkan. Sedangkan data untuk hasil lembaran observasi guru dihitung dengan menjumlahkan seluruh data sesuai dengan kriteria sesuai yang telah ditentukan.

Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan tindakan kelas yang dilakukan adalah pada tahap keberhasilan belajar yang diperoleh siswa. Tahap keberhasilan ini dihitung berdasarkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal mengenai materi pelajaran Momentum dan Impuls. Tindakan yang diberikan dikatakan berhasil jika kriteria sebagai berikut:
1.    Perhitungan rata-rata tes formatif pada masing-masing pertemuan belajar terdapat peningkatan secara signifikan.
2.    Bila terjadi peningkatan pada jumlah atau persentasi siswa yang mencapai keberhasilan secara klasikal persentase siswa yang berhasil dalam belajar diharapkan memnuhi KKM.
Bila kriteria tersebut terpenuhi, maka penguasaan materi pelajaran dengan model discovery learning dapat dijadikan usaha dalam peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa, khususnya pada materi Hukum Newton.







Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 5 di SMA N 1 Muaro Jambi. Pengambilan kelas X MIA 5 sebagai subjek penelitian ini didasarkan pada observasi awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran fisika. Dari hasil observasi awal, dimana peneliti ikut serta kedalam kelas saat proses belajar mengajar berlangsung, didapatkan bahwa kelas X MIA 5 merupakan kelas yang motivasi belajarnya paling rendah. Senada dengan hasil observasi awal, guru mata pelajaran fisika juga mengatakan bahwa banyak siswa di X MIA 5 yang kurang memperhatikan pelajaran yang disampaikan saat proses belajar mengajar berlangsung. Adapun jumlah seluruh anggota kelas X MIA 5 adalah sebanyak 36 orang, dimana seluruh anggota  akan dijadikan sampel dalam penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini, yaitu wawancara, angket dan observasi. Wawancara dilakukan untuk menemukan permasalahan atau mendapatkan data yang dilakukan secara lisan. Angket motivasi belajar siswa digunakan untuk  melihat bagaimana motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika. Sedangkan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data dengan cara mengamati subjek penelitian.
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan wawancara  tidak terstruktur, dimana pada wawancara ini peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya, karena peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga hanya mendengarkan saja apa yang diceritakan oleh responden dan berdasarkan dari setiap jawaban responden maka peneliti dapat mengajukan pertanyaan berikutnya. Hasil dari wawancara tersebut akan dijabarkan oleh peneliti kedalam bentuk data deskriptif. Data deskriptif yang menjelaskan tentang motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika di kelas X MIA 5. Adapun hasil wawancara tersebut, yaitu kelas X MIA 5 merupakan kelas dengan motivasi belajar yang rendah terutama pada mata pelajaran fisika.
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan observasi tidak terstruktur, karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Adapun hasil observasi yang dilakukan peneliti yang ikut serta ke dalam kelas saat pembelajaran fisika berlangsung ialah rendahnya motivasi belajar siswa, dengan bukti adanya siswa yang tidak memperhatikan guru menyampaikan materi, siswa yang berbicara dengan teman sebangkunya, ribut saat proses belajar mengajar berlangsung dan siswa asyik dengan kegiatannya masing-masing yang tidak berkaitan dengan pembelajaran fisika. Data hasil observasi ini juga akan dipaparkan oleh peneliti ke dalam bentuk data deskriptif.
Angket yang diberikan oleh peneliti kepada siswa kelas X MIA 5 adalah angket motivasi belajar, dimana pemberian angket ini dilakukan setelah peneliti menganalisis data hasil wawancara dan observasi. Adapun angket yang digunakan oleh peneliti ialah angket hasil adopsi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh devi dengan judul penelitian “Penerapan Model Pembelajaran ARIAS Terintegratif Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI MIA1 SMA Negeri 6 Kota Jambi”. Penyebaran angket ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika. Adapun data yang diperoleh dari penyebaran angket sebagai berikut:
No
Rentang Persentase Hasil motivasi Belajar Fisika (%)
Kategori
Jumlah Siswa
1.
80 ≤ P ≤ 100
Sangat baik
0
2.
65 ≤ P ≤ 79,99
Baik
2
3.
55 ≤ P ≤ 64,99
Cukup
11
4.
40 ≤ P ≤ 54,99
Kurang
22
5.
0 ≤ P ≤ 39,99
Sangat kurang
1
            Penelitian motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika ini ditinjau berdasarkan indikator-indikator dari instrumen angket motivasi yang telah divalidasi. Indikator tersebut meliputi aktivitas belajar, ketekunan dalam mengerjakan tugas, keuletan dalam menghadapi kesulitan, respon siswa terhadap informasi yang disampaikan dan umpan baliknya serta penguatan dari guru. Hasil temuan data dalam penelitian ini menggambarkan bahwa motivasi belajar siswa sangat rendah. Oleh karena itu, peneliti menggunakan 3 teknik pengambilan data yaitu wawancara, angket dan observasi. Segala penilaian dilakukan secara teliti. Peneliti mewawancarai guru mata pelajaran fisika dan observasi kegiatan belajar mengajar di kelas X MIA5. Setelah data observasi dan wawancara telah dianalisis, maka dilakukan pembagian angket kepada seluruh siswa kelas X MIA 5. Selama pengisian angket, siswa  diawasi secara intensif oleh observer agar tidak dapat mencontek jawaban dari rekannya.
Berdasarkan data hasil wawancara dengan guru mata pelajaran fisika di SMA N 1 Muaro Jambi, kelas X MIA 5 merupakan kelas yang motivasi belajarnya paling rendah, dibandingkan kelas lainnya. Hasil wawancara guru tersebut dikuatkan dengan prestasi belajar serta keaktifan siswa di kelas. Saat pembelajaran berlangsung, siswa kurang memperhatikan guru, sibuk dengan urusan yang tidak berkaitan dengan pembelajaaran, dan terlihat kurang bersemangat dalam belajar. Hasil analisis deskripstive angket motivasi belajar siswa menunjukan bahwa  motivasi belajar siwa masih berada pada kategori kurang baik dengan persenan rata-rata 51.04%.

Penelitian ini didasari oleh adanya rasa keingintahuan tentang motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Muaro Jambi tahun pelajaran 2017/2018. Tujuannya, untuk memberikan gambaran awal tentang motivasi belajar siswa  pada mata pelajaran fisika yang sesungguhnya di lapangan berdasarkan tinjauan dari hasil wawancara, observasi dan angket motivasi belajar siswa kelas X MIA 5.
Teknik perhitungan data menggunakan program SPSS.24 untuk mendeskripsikan data statistic guna menggambarkan data angket motivasi secara umum. Secara kualitatif, peneliti melakukan pengamatan langsung di kelas. Kemudian secara kuantitatif dilakukan penyebaran angket motivasi di kelas X MIA 5 SMAN 1 Muara Jambi.
            Fokus penelitian ini terletak pada bagaimana tanggapan siswa tentang pembelajaran fisika serta tinjauan motivasinya berdasarkan sikapnya dikelas. Dari hasil analisis angket motivasi menyatakan bahwa sebanyak 2,78% siswa kategori sangat kurang memiliki motivasi, 61,1% siswa berada pada kategori kurang memiliki motivasi, 30,5%  siswa berada pada kategori cukup baik dan 5,5% siswa berada pada kategori baik. Berdasarkan data tersebut tampak bahwa rata-rata siswa perlu adanya upaya peningkatan motivasi belajar agar siswa memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dan aktif dalam kelas. Dimyati dan Mudjiono (2002) mengatakan bahwa siswa belajar karena didorong kekuatan mental, kekuatan mental itu berupa keinginan dan perhatian, kemauan, cita-cita didalam diri seseorang, terkadang adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu dalam belajar. Dalam artian, dengan tumbuhnya motivasi dalam diri seseorang akan melahirkan perhatian untuk melakukan sesuatu lebih berkonsentrasi dan tidak mudah bosan dengan apa yang dipelajari. Kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik apabila anak memiliki motivasi belajar yang besar. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar akan merasa malas dan tidak semangat dalam mengikuti pelajaran.
            Berdasarkan deskripsi data penyebaran angket motivasi belajar siswa di kelas X MIA 5 SMAN 1 Muaro Jambi, motivasi siswa diperoleh seperti yang tertera pada table berikut.
N Valid
Motivasi
Mean
65.6286
Median
66.0000
Std. Deviation
11.22258
Variance
125.946
Minimum
42.00
Maximum
87.00

Dari table dapat dilihat bahwa motivasi rata-rata statistika adalah 65,6286. Angka motivasi belajar siswa itu merupakan kriteria motivasi belajar siswa yang kurang baik dan tergolong sangat tinggi dibandingkan dengan krteria 5,5% siswa berada pada kategori baik. Dikarenakan keberhasilan tergantung pada motivasi siswa, dimana motivasi belajar sangat berperan mendorong siswa mencapai keberhasilan belajarnya, keberhasilan mencapai tujuan berdampak pada kepuasan. Keberhasilan belajar yang diraihnya tentu akan menghasilkan kepuasan pada diri mereka sendiri. Maka dari itu, meningkatkan motivasi belajar pada diri seseorang atau siswa dapat membuat seseorang atau siswa berkeinginan keras untuk mencapai tujuannya.



Berdasarkan data observasi dan analisis data baik wawancara maupun angket dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa di kelas X MIA 5 rata-rata kurang yaitu sebanyak 61,1% siswa terdeteksi kurang motivasi sehingga menyebabkan rendahnya tingkat kompetisi dan keinginan belajar antar siswa. Hal tersebut dapat berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam belajar. Oleh karena itu, motivasi kelas tersebut perlu ditingkatkan.

Berdasarkan temuan masalah yang ada di lapangan, maka peneliti menyarankan sebaiknya guru perlu menggunakan metode dan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan. Hal tersebut dilakukan supaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga akan tercapainya keberhasilan dalam belajar.






Adisusilo,Sutarjo, 2014. Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: Rajawali
Dimyatidanmudjiono., 2002. Belajar Danpembelajaran. Jakarta :Rinekacipta.
Djaali. 2013. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri Dan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Edgen, P.&Kauchak, D. 2012. Strategidan Model Pembelajaran. Jakarta: Indeks.
Ibrahim. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Nor, M. (2016, February). The Implementation Of Curriculum 2013 In Experement Of Optic Course Through The Development Of Student Worksheetto Establish Scientific Attitude In Physics Education Program. In Proceeding 7th International Seminar On Regional Education (Vol. 3, Pp. 1316-1324).
Rahman,Agus Abdul. 2014. Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali
Santrock, J.W. 2004. Psikologi Penidikan. Jakarta: Prenada Media Group
Sardiman., 2011, Interaksi Dan Motivasibelajarmengajar. Jakarta: Rajawali Pers
Sobur,Alex, 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Suhana, Cucu.2014. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Suharsimi,Dkk. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pt Bumi Aksara
Sumarsono, Joko. 2009. Fisika Untuk Sma/Ma Kelas 10. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdines.
Suparman S. 2010. Gaya Mengajar Yang Menyenangkan Siswa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komen asal santun. Trim's